Mengapa rasul
Yakobus tiba-tiba mau kita meniru ketekunan Ayub di ayat 11? Apa yang harus
ditekuni oleh Ayub? Saya perhatikan bahwa di ayat 11, Yakobus menggunakan kata
Yunani yang lain untuk mengambarkan ketekunan. Kata yang dipakai mirip dengan
yang dipakai di ayat 7-8. Kata itu juga muncul sebelumnya di Yak.1.3, 4 dan 12.
Kata-kata ini semuanya berbicara mengenai godaan berkaitan dengan kelangsungan
iman. Pokok ini membuat kita dapat melihat bahwa ketekunan yang dibutuhkan oleh
Ayub adalah dalam hal pencobaan terhadap iman. Di dalam kesimpulan suratnya,
Yakobus sekali lagi kembali kepada topik pencobaan iman. Dia telah sekali lagi
memperingatkan bahwa saat berhadapan dengan pencobaan iman, kita harus ingat
bagaimana Ayub bertahan dan bertekun di dalam pencobaan-pencobaan kita sampai
dia dapat pada akhirnya menerima berkat-berkat dari Allah.
Seperti yang
Petrus katakan di 1 Pet. 4.12, “Saudara-saudara yang terkasih, janganlah kamu
heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah
ada sesuatu yang aneh terjadi atas kamu”. Pencobaan iman yang sedemikian adalah
hal-hal yang tidak kita pahami, tapi ia tiba-tiba menimpa kita seperti yang
terjadi kepada Ayub. Kejadian-kejadian demikian tidak dapat kita pahami dan
jelaskan. Saya pernah mengenal seorang saudara yang berimigrasi dari Shanghai
ke Amerika. Dia tidak mendapatkan pekerjaan bahkan setelah pindah ke
Amerika dan hidupnya menjadi sangat tidak terurus. Setelah itu dia menjadi
Kristen, dan tidak lama setelah itu, istrinya berselingkuh dan lari mengikut seorang
pria Amerika. Dia ditinggalkan bersama anaknya yang berusia tiga tahun. Saat ia
sedang terpuruk, anaknya ditabrak seorang pengendara mobil yang juga seorang
Kristen di parkiran gereja dan anak itu akhirnya mati setelah diantar ke rumah
sakit. Anda dapat membayangkan betapa sedihnya saudara ini. Dia berkonsultasi
ke pendeta-pendeta di berbagai gereja, menanyakan mengapa hal yang demikian
terjadi pada anak yang begitu dikasihinya. Namun, tidak seorangpun yang dapat
memberinya jawaban. Saya sendiri tidak dapat memberinya jawaban. Pengalamannya
membuat saya memikirkan tentang pengalaman Ayub. Itu adalah pencobaan iman.
Hanya Allah yang tahu tujuannya. Namun, ada satu hal yang sangat penting. Rasul
Yakobus memberitahu kita bahwa ketekunan Ayub membawa dia untuk pada akhirnya
menyadari bahwa Allah itu penuh belas kasihan dan kasih karunia.
Pencobaan
seperti apa yang dialami oleh Ayub? Mari kita membaca Ayub 1.6-12. Di sini,
kita membaca Iblis berbicara keapda Allah bahwa imannya Ayub dibangun di atas
kekayaan yang telah Allah berikan kepadanya. Jika Allah mengambil semua
warisannya, Ayub tidak akan lagi percaya pada Alah. Karena itu, Allah
mengizinkan Ayub untuk menghadapi ujiannya yang pertama dari Iblis yaitu
mengambil semua warisannya, anak-anaknya dan kekayaannya dalam sekelip mata.
Namun, Ayub tidak meninggalkan Allah karena semua itu. Di akhir pasal 1, Kitab
Suci memberitahu kita bahwa Ayub memuliakan Allah untuk semua yang dialaminya
itu, jadi hal itu membuktikan bahwa iman Ayub terhadap Allah tidak didasarkan
pada hal-hal materi.
Mari kita
membaca Ayub 2.1-6. Di sini kita melihat bahwa Iblis berkata kepada Allah bahwa
Ayub mengasihi hidupnya sendiri lebih dari kesetiaannya kepada Allah. Karena
itu, Allah mengizinkan Iblis untuk menimpakan penderitaan ke atas tubuh jasmani
Ayub di mana sekujur tubuhnya dipenuhi oleh borok. Namun, Ayub tidak
meninggalkan Allah karena penderitaan-penderitaannya itu.
Pencobaan-pencobaan
ke atas iman Ayub berlangsung untuk suatu periode waktu. Namun, Ayub pada
akhirnya mengalahkan semuanya dan memelihara imannya terhadap Allah. Di dalam
ujian iman ini, pelajaran apa yang mau Allah ajarkan pada Ayub? Mari kita
membaca dari Ayub 42.1-6. Ayub menyatakan sesuatu yang sangat aneh di sana dan
ia mengungkapkan pertobatannya terhadap Allah. Ayub bertobat dari hal apa? Di
dalam mata kita, dia sangat benar dan orangnya hampir tanpa bercela. Ayub
bertobat di hadapan Allah dalam hal apa? Setelah membaca buku Ayub, beberapa
orang merasakan bahwa Allahlah yang telah menganiaya Ayub dan Allah kelewatan
dalam menangani Ayub dalam cara itu. Seharusnya Allahlah yang meminta maaf
kepada Ayub, tetapi mengapa Ayub yang harus bertobat?
Mari kita
lihat di Ayub 42.5. Ayub berkata bahwa dia mendengar tentang Allah di waktu
lampau, tapi sekarang ia benar-benar melihat Allah. Apa yang dimaksudkan
olehnya? Itu berarti pengenalan Ayub akan Allah telah mengalami suatu terobosan
sebagai akibat dari ujian iman ini. Pengenalannya akan Allah telah bergerak
dari “mendengar” kepada “melihat” dan imannya pada Allah telah menuju tingkat
yang lebih tinggi. Justru kaena hubungannya dengan Allah telah diperdalam, ia
mempunyai pemahaman yang lebih mendalam akan dosa-dosanya yang membuatnya
mengungkapkan pertobatannya terhadap Allah.
Apa kesan yang
muncul dari ujian iman? Dampaknya adalah ia membuat hubungan kita dengan Allah
semakin mendalam. Setelah mengalami pencobaan-pencobaan, Ayub menjadi sahabat
Allah seperti Abraham. Ingat bagaimana Yak. 2.23 berbicara mengenai iman
Abraham, ayat itu memberitahu kita bahwa Abraham adalah sahabatnya Allah. Allah
mau setiap dari kita menjadi sahabatnya namun karena ketidak-kudusan kita,
hubungan kita dengan Allah hanya dapat berhenti di tahap yang sangat dangkal.
Itulah yang membuat kita tidak dapat melihat dosa-dosa dan ketidak-kudusan
kita, Dia mengizinkan kita mengalami pencobaan iman yang dapat diibaratkan
sebagai melewati api, proses yang membuat kita lebih bersih, lebih murni dan
yang menuntun kita pada hubungan yang lebih mendalam dengan Allah, supaya kita
dapat menjadi sahabat Allah.
Yang terakhir,
saya mahu menanyakan suatu pertanyaan: mengapa Anda mau percaya pada Allah?
Apakah karena Anda mau mendapatkan manfaat dan berkat dari Allah dan bukannya
mau menjadi sahabat karibNya? Jika demikian, Allah bagi Anda tidak ada bedanya
dengan ilah yang lain. Jika kita tidak melihat bahwa Allah menyelamatkan kita
dengan alasan untuk menjadikan sahabatNya, sama sekali tidak ada artinya
menjadi seorang Kristen. Jika hati Anda terfokus pada mencari Allah,
mengasihiNya dengan segenap hati dan pikiran dan menjadi sahabatNya, maka Anda
berada di jalur iman yang benar. Bagaimanapun, Anda harus mempersiapkan hati
dan pikiran untuk pencobaan-pencobaan iman. Saat Anda menghadapi
pencobaan-pencobaan, janganlah melupakan teladan Ayub.
PemimpinGereja.blogspot.my

0 ulasan:
Catat Ulasan